Mantan Psikolog Timnas Ungkap Hal-hal Mengejutkan di Pembinaan Usia Muda

Bolanusantara - Psikolog olahraga Johannes Adriaan Arnoldus Rumeser bicara mengenai hal-hal yang memengaruhi perkembangan fisik pemain. Dia menyebut melorotnya fisik pemain dalam waktu singkat tak jauh karena permasalahan hal mendasar, seperti kedisiplinan dan cara berpikir yang kurang tepat.

Pria yang lebih dikenal dengan nama Jo Rumeser bukanlah orang asing di sepakbola Indonesia. Sebagai psikolog, beliau ikut andil dalam kesuksesan Timnas menjuarai Merdeka Games di Bangkok pada 1984 silam. 

Kegemarannya dalam olahraga membuatnya tak pernah jauh dalam sepak bola. Dia pun memilih jalur yang terfokus pada hal-hal psikologis keolahragaan dan pengembangan usia dini.

 

Baca Juga : Justin Quincy Hubner Pemain Wolverhampton Nyatakan Keinginan Bermain Untuk Timnas Indonesia

 

Jo pun menceritakan pengalamannya bekerja sama dengan mantan pelatih timnas U-23 1984 (PSSI Garuda I) Joao Barbatana (Brazil). Serta Josef Masopust mantan pemain level dunia asal Cekoslowakia yang melatih Timnas U-23 (PSSI Garuda II). Jo mengaku mendapatkan banyak pengalaman dari kedua orang luar biasa tersebut.

Dia mengatakan untuk menjaga fisik dan mental pemain memang harus dimulai sejak awal. Harus ada patokan atau gambaran yang jelas soal cara mengembangkan potensi pemain pada masa depan.

“Salah satu misalnya, ini soal kecil, pelatihan nasionak (Pelatnas) itu ada namanya tambahan suplemen. Suatu waktu ketahuan ternyata suplemen tersebut ditemukan menumpuk di kamar anak-anak. Jadi artinya, tidak diminum oleh mereka,” cerita Jo dalam bincang-bincang bertema Menumbuhkan Mental Pemain Sepakbola Level Nasional.

“Nah Itu kan kebiasaan yang harus kita ubah,” sambungnya.

 

Baca juga: Prediksi Formasi Timnas Indonesia U-19 Vs Kroasia

 

 

Lain cerita, Jo pernah mengeksplorasi dan mengamati pemain-pemain yang berasal dari Indonesia timur. Dalam penelitian itu ia juga mendapatkan fakta baru yang membuatnya dapat mengambil kesimpilan dasar perbedaan fisiologis dan psikologis antardaerah. Dan lagi-lagi hal itu tidak jauh dari masalah kebiasaan.

“Kami melakukan penelitian juga, kenapa HB (hemoglobin) anak-anak itu kok tidak bisa tinggi-tinggi. tapi ada anak-anak tertentu yang punya HB tinggi,” katanya.

“Waktu kami ke Indonesia Timur kami lihat, ternyata itu karena kebiasaan makan. Jadi anak-anak timur punya kebiasaan makan ikan. Ikan itu membantu pembentukan hemoglobin.”

“Jadi anak-anak dari Jawa jarang makan ikan, bahkan cenderung tidak suka makan ikan. Jadi diberikan suplemen itu pun tidak akan bertambah-tambah hemoglobin,” pungkasnya.

Kebiasaan kecil ini tidak hanya menjadi pondasi untuk membentuk fisik, namun juga akan mempengaruhi aspek-aspek psikologis pemain. Premis-premis yang dibawakan Jo sesuai dengan isu yang sedang hangat terkait gaya hidup pemain-pemain muda Indonesia. Sejumlah pemain sorotan warganet dalam beberapa waktu terakhir ini karena gaya hidup yang hedon dan indisiplin.

Note: Ayo Mainkan, menangkan, kumpulkan poin sebanyak-banyaknya dan rebut hadiah keren dengan hanya memainkan Game Seru Bola Nusantara! Caranya Download dulu aplikasinya di sini

 

Berita Terkait

Memuat Data Bola Nusantara